Diimingi Kehidupan Yang Layak, Untia (Masih) Dihantui Banyak Masalah
Untia merupakan salah satu kelurahan yang berada di Kecamatan Biringkanaya,
Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan. Untia sendiri berasal dari kata “untia” yang
artinya “pisang”. Kawasan ini disebut Untia karena dahulu wilayah ini merupakan areal
atau kawasan perkebunan pisang, namun pada tahun 1998 warga dari Kelurahan Lae-lae
direlokasi oleh pemerintah Kota Makassar ke kawasan pemukiman nelayan Untia. Warga
yang direlokasi ke Kelurahan Untia tersebut sebagian besar bermata pencaharian sebagai
nelayan. Oleh karena itu kampungtersebut dinamakan Kampung Nelayan. Kelurahan Untia
mempunyai potensi untuk dijadikan sebagai kawasan wisata, di kampung nelayan Untia ini
terdapat potensi yang dapat dikembangkan seperti, tambak ikan nelayan, areal persawahan
dan budidaya mangrove yang dapat dijadikan sarana wisata.
Kawasan pesisir kelurahan Untia awalnya merupakan kawasan yang banyak
ditumbuhi mangrove alami. Namun lambat laun kawasan ini mulai mengalamipenurunan
luasan mangrove yang disebabkan oleh alih fungsi lahan dan penebangan yang dilakukan
oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kayu mangrove dimanfaatkan oleh
masyarakat sebagai bahan bakar yang mengakibatkan penurunan kualitas air dan abrasi.
Hal ini berdampak pada warga sekitar, yaitu bila air laut pasang maka pemukiman warga
akan tenggelam. Namun aktivitas masyarakat yang menggunakan kayu mangrove sebagai
bahan bakar mulai berkurang seiring dengan mulai meningkatnya kesadaran untuk
menggunakankompor gas guna membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga sebagai pengganti dari penggunaan mangrove untuk bahan bakar. Selain itu masyarakat
mulai berupaya memperbaiki/merestorasi kawasan hutan mangrove dengan
melakukan penanaman yang dilakukan oleh masyarakat Untia sejak tahun 2007
dan kembali ditata pada tahun 2010 untuk menahan abrasi, intrusi air laut dan
utamanya untuk menetralkan air yang akan digunakan oleh masyarakat setempat.
Gambar: Lokasi penanaman dan kawasan hutan mangrove di Untia
Selain itu masalah lain yang juga tengah dihadapi masyarakat Untia adalah
sulitnya memperoleh air bersih. Salah satu penyebabnya karena pendistribusian air
yang tidak merata akibat dari adanya industri dan pemukiman elit disekitar
Kelurahan Untia sehingga masyarakat tidak dapat menikmati air bersih seperti
dulu. Masyarakat setempat pun mau tidak mau harus membeli air bersih untuk
memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Nominal yang dikeluarkanpun tidak
sedikit, satu kali pembelian air dihargai sebesar Rp 60.000,- yang dapat digunakan
selama satu minggu.
“Dulu itu, air PDAM mengalir sampai di sini. Tapi semenjak banyaknya
pabrik atau industri yang dibangun, air PDAM mulai sulit mengalir, bahkan
sekarang sudah tidak ada air yang mengalir dari PDAM. Sebenarnya sudah ada
bantuan air dari PDAM tapi tidak setiap waktu ada, ada jadwalnya yang telah
ditentukan, itupun jumlah air yang diambil dibatasi perkepala keluarga. Itupun
air yang diberikan harus dibeli. Air yang dibeli itu biasanya di pakai memasak,
kalau untuk kebutuhan mandi dan mencuci, masih menggunakan air sumur,
itupun sumur yang digali tidak dapat terlalu dalam karena airnya yang asin. Sudah ada bak penampungan air dibangun di blok C, tapi saya tidak tau kenapa sampai saat ini belum beroperasi”
Tutur salah satu Ketua RT di Kelurahan Untia yang sempat kami wawancarai.
Dalam memenuhi kebutuhan air bersih saja masyarakat masih mengalami
kesulitan, kemudian diperparah dengan kondisi para nelayan yang kesulitan
memperoleh tangkapan ikan dan tempat penambatan perahu nelayan yang hanya
dapat diparkir jika terjadi air pasang dan akan kandas ketika air surut. Hal ini
merupakan salah satu dampak dari pembangunan pelabuhan baru disekitar
wilayah Untia dan sedimentasi yang terjadi ditepi laut, sehingga para nelayan
mesti mencari wilayah tangkapan ikan dan tempat penambatan perahu yang lebih
jauh dari wilayah sebelumnya.
Seharusnya pemerintah atau penanggung jawab setempat dengan sigap
mengatasi permasalahan-permasalahan yang dihadapi masyarakat Untia.
Memperoleh air bersih dan penghidupan yang layak adalah hak yang mestinya
dinikmati sedari dulu hingga sekarang. Namun kenyataannya sangat sulit untuk
hal tersebut. Masyarakat hanya berharap masalah-masalah yang terjadi di
Kelurahan Untia dapat teratasi dengan baik dan masyarakat dapat hidup di tempat
ini sebagaimana mestinya

Komentar
Posting Komentar