Food Waste and Food Loss

FOOD WASTE AND FOOD LOSS




Manusia membutuhkan energi untuk menjadi sumber tenaga dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari. Sumber tenaga yang dimaksud tidak lain dan tidak bukan adalah dari makanan. Makanan merupakan kebutuhan dasar manusia untuk keberlangsungan hidup dan sebagai sumber energi untuk menjalankan aktivitas fisik maupun biologis dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana yang tercantum pada UU No. 18 tahun 2012 bahwa hak untuk memperoleh pangan merupakan salah satu hak asasi manusia.

Sayangnya, makanan tidak selalu berakhir di pencernaan manusia. Kebutuhan manusia yang besar akan makanan nyatanya tidak dapat mencegah terjadinya pemborosan makanan dimana makanan terbuang menjadi sampah yang disebut food waste. Food waste menurut FAO (Food and Agriculture Organization) merupakan sampah yang dihasilkan pada saat proses pembuatan maupun setelah kegiatan makan yang berhubungan dengan perilaku penjual dan konsumennya baik perilaku yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Sederhananya, food waste adalah makanan yang seharusnya layak untuk dimakan namun dibiarkan membusuk atau dibuang dengan sengaja sehingga menjadi sampah. Hal ini kebanyakan terjadi pada tahap konsumsi, yang mana masyarakat tidak sadari akan berdampak pada ketahanan pangan masyarakat. FAO juga menyebutkan bahwa ada pula makanan yang terbuang akibat tumpah atau busuk sebelum sampai pada tahap produksi akhir atau tahap retail yang disebut dengan food loss. Food loss merujuk pada pengurangan jumlah dan kualitas dari bahan makanan yang secara garis besar terjadi di tahap pertanian dan perindustrian1. 

Di seluruh sistem pangan global,  food waste dan food loss (FWL) adalah masalah yang tersebar luas dan kompleks karena menghadirkan tantangan bagi ketahanan pangan, keamanan pangan, ekonomi dan kelestarian lingkungan. Tidak ada perkiraan yang akurat tentang tingkat FWL yang tersedia, tetapi penelitian menunjukkan bahwa FWL kira-kira 30% dari semua makanan secara global2. 

Di Indonesia sebagaimana dikutip dari foodsustainability.eiu.com, data dari Economist Intelligence Unit (EIU) pada tahun 2017 menempatkan Indonesia sebagai nomor dua penghasil sampah makanan terbanyak  di dunia setelah Arab Saudi3. Pada tahun sebelumnya, Kepala Perwakilan Badan Pangan PBB (FAO), Mark Smulders dalam wawancaranya mengungkapkan bahwa di Indonesia sampah makanan mencapai 13 juta ton setiap tahunnya. Kemudian data dari Global Hunger Index tahun 2018 menyebutkan bahwa Indonesia berada pada peringkat ke 73 dari 119 negara yang menduduki tingkat kelaparan yang serius4. Jika kedua kalimat sebelumnya dibenturkan, 13 juta ton sampah makanan di Indonesia per tahun apabila dikelola dengan baik seharusnya dapat menghidupi lebih dari 28 juta orang, sebagaimana dilansisr oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2015 angka tersebut hampir sama dengan jumlah penduduk miskin. 

Hal yang paling penting sehingga melatarbelakangi fenomena tersebut yaitu perilaku konsumtif masyarakat yang selalu berlebihan, entah dalam berbelanja maupun dalam mengolah makanan. Masyarakat (khususnya yang berkecupan), cenderung membeli produk dalam jumlah ‘lebih dari cukup’. Ironisnya, perilaku seperti ini menjadi pewajaran yang terpupuk di masyarakat sehingga katanya tak mudah untuk mengubah paradigma masyarakat. Padahal sebenarnya kita bisa menjadi penggerak perubahan dengan dimulai dari diri sendiri. 

Dilansir dari jurnal Binus, Think.Eat.Save adalah sebuah kampanye dari Save Food Initiative, yang bekerja sama dengan UNEP, FAO dan Messe Düsseldorf, serta ditunjang oleh UN. Berbasis website mereka bergerak untuk membuat masyarakat sadar tentang betapa banyak makanan yang mereka buang setiap harinya. Secara general, bertujuan untuk mengajak orang untuk bersama-sama stop membuang makanan, dengan memberi informasi-informasi tentang hal-hal yang harus dilakukan untuk mencegah food waste5. 

Dimulai dari hal-hal kecil yang bisa dilakukan, kita bisa mengurangi limbah pangan yang terbuang tiap harinya. Karena limbah pangan tidak bisa terurai, melainkan menimbulkan polusi. Cara-cara yang dapat dilakukan, seperti: 
1. Shop Smart - buat daftar belanja, hindari beli makanan berlebih
2. Buy Funny Fruit - banyak buah yang dibuang karena bentuknya tidak bagus, meskipun mereka memiliki gizi yang sama
3. Understand Expiration Dates
4. Zero Down Your Fridge - habiskan makanan yang sudah dibeli sebelum membeli lagi
5. Say Freeze and Use Your Freezer - masukkan sisa makanan ke freezer untuk mereka tahan lebih lama
6. Request Smaller Portions - restoran akan memberi porsi lebih kecil seperti nasi
7. Compost - mengubur food scraps yang dapat terurai menjadi kompos
8. First in First Out - Habiskan dahulu makanan yang lebih lama
9. Love Leftovers - hidangan makan malam yang bersisa dapat disimpan kemudian dimakan lagi untuk hari esok, bawa makanan pulang dari restoran bila terdapat sisa
10. Donate - makanan yang masih layak dapat diberikan ke tempat sosial atau
sekedar satpam/ warung di sekitar kita




Sources:
1. Food and Agriculture Organization (2014)
2. World Bank (2015)
3. The Economist Intelligence Unit with BCFN (2017) 
4. Global Hunger Index (2018) 
5. binus.ac.id (2016) 

Salam,
Departemen Jurnalistik dan Wawasan Lingkungan
Biro Khusus Belantara Kreatif 2018-2019 

Temukan Kami di:
▶ e-Mail: bkbkhut.unhas@gmail.com
▶ ig: @belantarakreatif
▶ twitter: @BKBK_Unhas
▶ fb: BKBK SI-Unhas
▶ Line: @zwg8170n
▶ youTube: Belantara Kreatif Kehutanan Unhas
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PKMR XLVIII : Momentum Untuk Menghasilkan Peserta Dengan Karakter Rimbawan

Diimingi Kehidupan Yang Layak, Untia (Masih) Dihantui Banyak Masalah

Observasi Talenta 23: Proses Menggali Potensi Generasi Muda UKM BK SI-Unhas