PEMBANGUNAN (TIDAK) RAMAH LINGKUNGAN DI KAMPUS MERAH
PEMBANGUNAN
(TIDAK) RAMAH LINGKUNGAN DI KAMPUS MERAH
Permasalahan
tentang lingkungan sudah menjadi pokok bahasan lama bagi bangsa Indonesia.
Perkembangan zaman yang serba modern saat ini mendorong semua pihak untuk
terus-menerus melakukan pembangunan akibat \ pengaruh dari pihak tertentu untuk
saling bersaing satu sama lain. Sehingga, tidak semua pembangunan memberikan
dampak positif bagi lingkungan sekitarnya.
Sejatinya, pembangunan merupakan proses perubahan untuk menjadi lebih
baik dan tidak bisa dipungkiri bahwa pembangunan memiliki
hubungan erat dengan lingkungan. Dengan kata lain bahwa, pembangunan yang
memberikan manfaat merupakan pembangunan yang didalam prosesnya memperhatikan
konsep kelestarian lingkungan. Apabila, pembangunan yang dilakukan mengabaikan
konsep tersebut, maka resiko yang muncul adalah dampak negatif dari
pembangunan.
Kampus
Universitas Hasanuddin merupakan salah satu kampus dengan tingkat kesejukan
yang tinggi sehingga banyak yang
menyebut bahwa kampus ini termasuk Kampus Hijau. Keasrian yang dilihat
ketika memasuki kampus ini membuat perasaan menjadi tenang dan damai dengan pemandangan
dari taman kota dan pohon-pohon hijau disetiap
sudut kampus. Sehingga tidak sedikit dari kalangan mahasiswa maupun masyarakat
sipil yang berkunjung ke taman dan pinggir danau untuk sekedar berfoto,
mengerjakan tugas kampus, maupun bersantai. Kampus Unhas ini ramai dikunjungi
saat sore hari dan saat weekend.
Melihat
semakin maraknya masyarakat yang mengunjungi kampus Unhas dan mahasiswa yang
semakin bertambah dari tahun ketahun, mendorong para petinggi kampus untuk
mengembangkan infrastruktur, seperti pembangunan jalur khusus pejalan kaki dan pengendara
sepeda, pembangunan halte, dan pembangunan infrastuktur lainnya. Sejalan dengan
hal tersebut, mulai terlihat banyak gundukan-gundukan pasir, kerikil, dan semen
di pinggir jalan yang dapat mengakibatkan polusi udara. Hal ini dirasakan oleh
pengendara motor yang merasa tidak tenang beterbangan terutama pada siang hari.
Pencemaran udara tersebut dapat memengaruhi kesehatan manusia, hal ini dikarenakan
masuknya partikel debu halus kedalam tubuh manusia melalui sistem pernapasan,
saluran pencernaan dan penetrasi kulit. Hal yang dapat ditimbulkan dari polusi
udara yaitu asma, bronchitis, pneuomokoniosis, dan fibrosis pada paru-paru.
Namun, tidak banyak dari pengguna jalan khususnya mahasiswa yang mengetahui
dampak Panjang dari polusi udara yang tersebar sehingga hanya mengabaikan hal
tersebut.
Pencemaran
udara juga dapat menghambat pertumbuhan tanaman yaitu dengan gangguan secara
primer (terjadinya kontak langsung
sumber pencemar dan bagian permukaan tumbuhan) sehigga dapat
menutupi lapisan epidermal (sel
mesophyl, spongy, dan palisade parenochymar) dan mengganggu proses
respirasi tumbuhan, gangguan sekunder pada tumbuhan yaitu adanya kerusakan pada
daun dan menyebabkan daun tumbuhan
menguning.
Hal
tersebut diatas sejalan dengan pernyataan Kepala Departemen Advokasi dan
Kampanye Wahana Lingkungan Hidup Indonesia
(WALHI), Nur Hidayati, dalam
diskusi publik tentang kebijakan lingkungan di Denpasar Bali pada Rabu, 20 Maret
2013 lalu. Nur Hidayati menyatakan “Perencanaan pembangunan infrastruktur di
Indonesia selama ini sangat jarang mempertimbangkan aspek lingkungan”.
Pencegahan
dampak negatif yang diberikan oleh pembangunan infrastruktur yaitu dapat
dilakukan aksi monitoring kualitas udara, pengendalian kualitas udara, memakai
makser dan helm bagi pengendara motor, sistem kerja lembur dan pada hari libur
di maksimalkan untuk meminimalisir meningkatnya polusi udara yang dapat
mengganggu pengguna jalan.
Sumber ; Budiyono, A. 2001. Dampak Pencemaran Udara Pada Lingkungan. Berita
Dirgantara. Vol 2. No 1.
Rosana, M. 2018. Kebijakan Pembangunan Berkelanjutan yang
Berwawasan Lingkungan di Indonesia. Jurnal Ilmu
Sosial. Vol 1 No 1


Komentar
Posting Komentar