CORONA, MEWABAH DAN MENGUBAH
CORONA,
MEWABAH DAN MENGUBAH
Covid-19 atau Corona Virus
Disease 19 merupakan penyakit menular yang menghebohkan dunia pada awal tahun
2020 ini. Bagaimana tidak, penyakit yang disebabkan oleh virus corona ini
dengan cepat menyebar keseluruh belahan dunia dan menjangkit ratusan ribu
orang. Virus ini meresahkan masyarakat, menghambat
aktivitas, dan melumpuhkan perekonomian dunia. Tidak pandang bulu, menyerang
wanita maupun pria, balita maupun lansia, rakyat jelata maupun penguasa.
Seperti
apa sebenarnya virus mematikan ini? Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit
atau Centers for Disease Control and
Preventation (CDC) menyatakan bahwa virus corona yang menjangkiti manusia
pada awalnya diidentifikasi pada tahun 1960. Teknologi kesehatan saat itu belum
secanggih sekarang serta virus belum bermutasi, menyebabkan kebanyakan orang
beranggapan bahwa itu hanyalah virus flu biasa.1
Pada
tahun 2003, barulah virus corona dianggap berbahaya bagi manusia. Saat itu,
virus corona bermutasi pada binatang musang, kelelawar, dan ular dan
menyebabkan penyakit SARS (Severe Acute
Respiratory Syndrome). Kemudian beberapa tahun berselang pada 2012 kembali
muncul virus corona jenis baru, yaitu MERS-CoV yang menyebabkan penyakit MERS (Middle East Respiratory Syndrome) yang
ditularkan melalui hewan endemik timur tengah, unta.
Virus
corona yang saat ini mewabah (SARS-CoV-2) dan menyebabkan penyakit Covid-19
merupakan jenis virus corona ke-7 yang menginfeksi manusia, virus ini diduga
bermutasi pada kelelawar dan ular. Gejala bagi penderita Covid-19 dapat
terlihat setelah 2-14 hari terjangkit virus dengan tanda seperti pilek, sakit
tenggorokan, batuk, demam tinggi, dan kesulitan bernapas. Orang lanjut usia
yang menderita penyakit kardiovaskular, diabetes, penyakit pernapasan kronis,
dan kanker lebih berpotensi terserang Covid-19 dengan mudah.
Kasus
pertama yang dilaporkan yaitu dari Wuhan, China pada akhir 2019 dan seketika
menyebar dengan sangat cepat, tren kasus terinfeksi dan meninggal dunia terus
meningkat tiap minggunya. Oleh karena itu, Badan Kesehatan Dunia atau WHO telah
menetapkan Covid-19 sebagai pandemi dunia pada 12 Maret lalu. Dikutip dari CNN
Indonesia, istilah pandemi dikenal dalam dunia epidemiologi atau ilmu yang
mempelajari pola penyebaran penyakit. CDC Amerika Serikat mencatat, pandemi
merupakan epidemi yang menyebar ke beberapa negara atau benua dan memengaruhi
masyarakat dalam jumlah besar. Sedangkan epidemi terjadi di satu lingkungan
terbatas atau negara saja.2
Berdasarkan
informasi yang dimuat dilaman resmi WHO, terhitung sejak 24 Maret pukul 14.00
WITA, konfirmasi kasus Covid-19 telah menyentuh angka 334.981 kasus dengan
14.652 kasus dilaporkan meninggal dunia dan telah menjangkit 189 negara, area,
dan teritori.3 Indonesia sendiri tidak luput dari serangan virus
tersebut, Presiden Joko Widodo menyampaikan langsung bahwa ada 2 warga
Indonesia yang positif terinfeksi corona untuk pertama kalinya di daerah Depok,
seorang ibu dan anak berusia 64 dan 31 tahun. Menurut data dari Kementerian
Kesehatan RI, terhitung tanggal 24 Maret pukul 11.00 WITA, sudah ada 579 kasus
dikonfirmasi dengan 49 diantaranya meninggal dunia dan 30 dinyatakan sembuh.4
Meskipun
kasus pertama ditemukan di China, masih banyak perdebatan mengenai asal usul
penyakit Covid-19 ini. Namun para peneliti di China mengungkapkan bahwa virus
ini berasal dan berkembang di pasar seafood
Huanan di Wuhan, China. Pasar yang kemudian ditutup setelah viralnya virus
corona tersebut dilaporkan menjual berbagai macam hewan liar. Peneliti CDC
China mengungkap bahwa penyebaran virus corona baru mempunyai relevansi dengan
perdagangan binatang liar.
Pasar
seafood Huanan sebenarnya sudah
menjadi sorotan karena dianggap sebagai asal muasal patogen mematikan. Virus
ini sendiri diduga berasal dari daging ular dan kelelawar yang dijual bebas di
pasar dan restoran Wuhan. Prof. Soewarno (Guru Besar Virologi dan Imunologi FKH
Unair) melalui website resmi Unair menyatakan bahwa virus corona jenis baru ini
merupakan mutasi dari virus yang telah ada sebelumnya, yaitu SARS-CoV dan
MERS-CoV. Ketiga jenis virus tersebut memiliki persamaan struktur dan
morfologi, tetapi berbeda secara genetik dan host. Selain itu, karena mampu menginfeksi manusia, maka virus ini
dikategorikan sebagai zoonosis.5
Sejauh
ini diperoleh kesimpulan bahwa SARS-CoV-2 mengalami mutasi dari kelelawar ke
ular kemudian ke manusia. Contohnya pada kelelawar terdapat tiga jenis yaitu
kelelawar pemakan serangga, kelelawar penghisap darah, dan kelelawar pemakan
buah. Ketiga jenis tersebut sama-sama bertindak sebagai vektor virus atau
perantara penyakit sehingga tidak disarankan untuk dikonsumsi manusia.
Pandemi
Covid-19 yang mewabah kemana-mana telah meresahkan masyarakat, akibatnya banyak
negara didunia telah menutup akses keluar masuk negaranya, untuk mencegah
penularan virus dari wilayah lain, terutama negara-negara dengan tingkat
penderita corona terbanyak seperti China dan Italia. Pemandangan yang tak biasa
juga sempat beredar luas melalui foto didunia maya yang memperlihatkan kakbah
yang biasanya ramai dikelilingi orang-orang beribadah, menjadi kosong karena
otoritas Arab Saudi menutup akses untuk sementara.
Adapula
beberapa negara yang menerapkan kebijakan lockdown,
berdasarkan informasi yang dimuat dilaman Kompas.com, sampai 24 Maret
setidaknya sudah ada 16 negara yang memberlakukan lockdown karena Covid-19, ada yang lockdown total, adapula beberapa
daerah saja yang sangat parah terinfeksi Covid-19. Sebut saja Italia yang
mengunci total 60 juta warganya serta China yang telah mengunci 16 kota
dinegaranya.6 Di Indonesia sendiri, pemerintah memberlakukan
kebijakan social distancing, atau
pembatasan gerak sosial terutama pada kegiatan di tempat umum yang melibatkan
banyak orang dan lebih baik tinggal dirumah jika tidak ada kegiatan mendesak
yang mengharuskan meninggalkan rumah. Ini kemudian populer di dunia maya dengan
tagar #DiRumahAja #StayAtHome.
Pemerintah
melalui juru bicara khusus penanggulangan virus corona, Achmad Yurianto
mengatakan Covid-19 sudah termasuk dalam bencana non-alam sesuai dengan
Undang-Undang No 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Di lingkup
Universitas Hasanuddin sendiri, per tanggal 15 Maret 2020 rektor telah
mengeluarkan edaran tentang Kesiapsiagaan dan Upaya Pencegahan Penyebaran
Infeksi Covid-19 untuk seluruh sivitas akademika Unhas.
Kita tentu berharap agar
bencana ini cepat menemui titik akhir. Namun, mari menelisik sejenak sisi lain
yang disebabkan oleh Covid-19 yang sedikit banyak mengubah tatanan hidup dunia.
Saat China mengumumkan mengunci beberapa wilayah, citra satelit menunjukkan
tingkat polusi udara menurun drastis, selain itu di Eropa menurut laman Science Alert, para astronom menunjukkan
penurunan emisi nitrogen dioksida. Dengan menurunnya aktivitas ekonomi global
sebagai akibat dari pandemi Covid-19, tidak mengherankan jika emisi berbagai
gas yang disebabkan oleh transportasi dan industri akan berkurang.7
Dibalik kebijakan lockdown dan social distancing yang berdampak pada alam "menyembuhkan
dirinya sendiri", juga sangat memungkinkan adanya paradoks berupa
lumpuhnya perekonomian. The Economist
Intelligence Unit (EIU) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia dari
2,3 persen menjadi 1,9 persen. Berdasarkan analisis EIU, kebijakan karantina,
penyakit, dan sentimen negatif konsumen dan bisnis saat ini akan menekan jumlah
permintaan pasar dunia. Pada saat yang sama, penutupan beberapa pabrik di
beberapa negara akan mengganggu rantai pasokan dan menciptakan kemacetan
pasokan.8
Melansir dari Liputan 6.com,
apa yang terjadi selanjutnya justru bisa saja tidak memihak pada lingkungan.
Semua bergantung pada kebijakan apa yang akan dilakukan pemerintah ketika
pandemi ini berakhir dalam hal mengeluarkan stimulus untuk merangsang kembali
pertumbuhan ekonomi. Belajar dari peristiwa krisis finansial tahun 2008-2009,
setelah krisis berakhir, emisi karbon justru melonjak 5% sebagai akibat dari
stimulus yang mendorong penggunaan bahan bakar fosil. Apa yang akan terjadi
setelah pandemi corona berakhir bisa saja pemerintah dan perusahaan-perusahaan
besar akan kembali memaksimalkan produksi sebagai kompensasi atas kerugian
selama pandemi, stimulus-stimulus tersebut bisa saja mengenyampingkan aspek
lingkungan.9
Referensi :
1.
Centers for Disease Control and
Preventation (CDC) [www.cdc.gov/coronavirus]
2.
CNN
Indonesia [www.cnnindonesia.com]
3.
World
Health Organization (WHO) [www.who.int/coronavirus]
4.
Kementerian
Kesehatan RI [covid19.kemkes.go.id]
5.
Website
Resmi Universitas Airlangga [www.unair.ac.id]
6.
Kompas.com
[www.kompas.com]
7.
Science
Alert [www.sciencealert.com]
8.
The
Economist Intelligence Unit (EIU) [www.eiu.com]
9.
Liputan6.com
[www.liputan6.com]








Komentar
Posting Komentar