Banjir Sulsel 2020, Terparah dalam Beberapa Tahun Terakhir?

 


Banjir Sulsel 2020, Terparah dalam Beberapa Tahun Terakhir?

Indonesia tak henti-hentinya berduka, belum usai pandemi Covid-19 mengobrak-abrik masyarakat hingga menghancurkan perekonomian, datang lagi bencana yang entah sampai kapan “mampir” ke Bumi Ibu Pertiwi. Sebut saja bencana hidrometeorologi terkhusus banjir yang belakangan melanda Sulawesi Selatan sampai medio 2020 ini. Ribuan bahkan jutaan orang merasakan dampaknya, mulai dari kehilangan keluarga hingga kehilangan harta benda. Tak heran banyak pihak yang beranggapan bahwa bencana ini adalah yang terparah dalam beberapa tahun terakhir.

Bencana hidrometeorologi sendiri merupakan bencana yang diakibatkan oleh parameter meteorologi seperti curah hujan, kelembaban, temperatur, dan angin. Banjir, kekeringan, badai, longsor, El Nino, La Nina, angin puting beliung adalah beberapa contoh bencana hidrometeorologi yang banyak terjadi. Perubahan cuaca yang tak menentu menjadi pemicu utama  terjadinya bencana ini, namun kerusakan lingkungan yang masif tak luput menjadi penyebab.

Sampai pertengahan 2020, banjir banyak terjadi di beberapa wilayah Indonesia. Dikutip dari situs BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), banjir adalah peristiwa atau kejadian alami di mana sebidang tanah atau area yang biasanya merupakan lahan kering, tiba-tiba terendam air karena volume air yang meningkat. Bencana banjir ini dipicu oleh beberapa faktor, salah satunya adalah curah hujan yang tinggi. Namun, curah hujan bukanlah satu-satunya faktor penyebab terjadinya banjir, faktor lingkungan seperti jaringan sungai atau drainase yang buruk, deforestasi, sampai kebiasaan membuang sampah sembarangan juga sangat berpengaruh. Banjir menjadi momok yang sangat meresahkan, sudah tak terhitung manusia yang kehilangan keluarga dan kehilangan harta benda. Analisis InaRISK menyatakan bahwa Indonesia memiliki potensi risiko sedang hingga tinggi untuk bahaya banjir. “Jiwa terpapar bahaya ini mencapai 100 juta penduduk di seluruh provinsi. Luas wilayah memiliki potensi terdampak banjir hingga hampir 20 juta hektare” katanya.

Analisis potensi curah hujan di Indonesia menggunakan citra satelit Himawari-B 

(sumber: belantara kreatif)

Sulawesi Selatan merupakan salah satu provinsi di Indonesia dengan kejadian banjir yang cukup banyak di tahun 2020 ini, sekaligus wilayah dengan potensi curah hujan menengah hingga tinggi yang dapat menyebabkan banjir. Berdasarkan analisis curah hujan menggunakan citra satelit Himawari-B diatas, dapat dilihat bahwa Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kepulauan Bangka Belitung, Jambi, Sumatera Selatan dan beberapa wilayah lainnya berpotensi memiliki curah hujan yang tinggi. Banjir yang melanda beberapa wilayah di Sulawesi Selatan akhir-akhir ini menjadi sorotan. Berikut adalah beberapa kejadian bencana banjir di Sulawesi Selatan sepanjang berjalannya tahun 2020.

1.      Banjir Barru

Banjir bandang melanda Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan pada hari Minggu, 12 Januari 2020. Penyebabnya yaitu curah hujan yang tinggi dan berkepanjangan di Barru. Banjir ini merendam hampir seluruh kecamatan. “Dari tujuh kecamatan, Pujananting saja yang tidak terdampak, yang lain kena.” Kata Abdul Muhaemin selaku Kepala Seksi Kesiapsiagaan BPBD Barru kepada Tribun Barru. Banjir yang terjadi ini mengakibatkan beberapa rumah warga terendam serta menganggu lalu lintas sepanjang jalan kabupaten.

2.      Banjir Soppeng

Seperti halnya Barru, banjir juga melanda Soppeng pada Minggu, 12 Januari 2020 pukul 09.00 WITA. Banjir ini terjadi karena curah hujan yang tinggi sehingga menyebabkan meluapnya Sungai Walanae. Banjir merendam dua kecamatan yakni Kecamatan Donri-Donri dan Kecamatan Marioriawa. Beberapa rumah dilaporkan hanyut dan ribuan rumah terendam banjir dengan ketinggian berkisar 30 sentimeter hingga 150 sentimeter.

3.      Banjir Bantaeng

Tepat pada Jumat, 12 Juni 2020, Kabupaten Bantaeng diguyur hujan yang begitu deras di wilayah dataran tinggi Bantaeng, Kecamatan Bissappu. Hujan deras tersebut mengakibatkan meluapnya Sungai Calendu dan Cekdam Balang Sikuyu. “Penyebab kejadian, dilaporkan meluapnya Sungai Calendu akibat tidak mampu menahan laju debit air yang  meningkat ditambah hujan deras di hulu sungai menambah debit air.” Kata Asrul selaku Kasubag Program Penanggulangan Bencana Bantaeng. (sumber: Republika.co.id)

4.      Banjir Wajo

Banjir sudah menjadi fenomena tahunan di Kabupaten Wajo. Pada Sabtu, 18 Juli 2020, banjir merendam 9 kecamatan dan 78 desa/kelurahan serta 17 ribu rumah warga yang ada di Wajo. “Ketinggian air di titik terparah sudah mencapai 4 meter” kata Andi Ardiansyah selaku Koordinator Pos Terpadu Penanggulangan Bencana daerah Kabupaten Wajo. (sumber: detik news)

5.      Banjir Luwu

Banjir yang terjadi di Suli, Kabupaten Luwu pada 9 Juli 2020 diakibatkan oleh tingginya curah hujan serta meluapnya air Sungai Cimpu dan Sungai Suli. Ketinggian air banjir mengakibatkan terendamnya rumah warga dan badan Jalan Trans Sulawesi di Kelurahan Suli. Sedikitnya, ada tujuh desa yang terendam banjir. Hal tersebut diungkap oleh Koordinator Basarnas Palopo, Maickel kepada wartawan Detik News “Desa yang terdampak banjir di Kecamatan Suli yaitu desa Malela, Cimpu, Cimpu Utara, Botta, Lempopacci, Kombong dan Kelurahan Suli”.

6.      Banjir Luwu Utara

Banjir bandang yang terjadi di Luwu Utara pada 13 Juli 2020 disebabkan oleh intensitas hujan yang tinggi selama dua hari sebelum banjir terjadi. Tingginya intensitas hujan di Luwu Utara mengakibatkan meluapnya Sungai Rongkong, Sungai Meli dan Sungai Masamba hingga terjadi longsor di beberapa desa. Banjir Luwu Utara ini adalah banjir terparah yang terjadi di Sulawesi Selatan sepanjang tahun ini atau bahkan dalam beberapa tahun belakangan. “Ini banjir terparah dari banjir-banjir sebelumnya”, kata salah satu warga.

Ratusan rumah rusak parah dan beberapa desa terendam lumpur setinggi 4 meter hingga memakan korban jiwa. TRC-PB, Basarnas dan tim gabungan yang bergabung dari beberapa daerah tetangga Kabupaten Luwu Utara melaporkan bahwa ada enam kecamatan yang terdampak banjir yakni Masamba, Sabbang, Baebunta, Baebunta Selatan, Malangke dan Malangke Barat. Banjir dan longsor yang terjadi di Luwu Utara ini disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah curah hujan yang tinggi. Berdasarkan data curah hujan MERRA2, pada bulan Mei hingga Juli lokasi kejadian banjir di Luwu Utara memang dilanda hujan yang tinggi. “Saya mencoba mengambil data harian dari bulan Mei sampai bulan Juli dari data curah hujan satelit MERRA2, dilokasi tersebut, kebetulan koordinat lokasi yang saya masukkan, curah hujannya sepanjang bulan Mei sampai bulan Juli itu dia hujan terus, jadi memang intensitas curah hujan di daerah itu sangat tinggi” kata Andang Suryana Soma selaku salah satu tim kajian banjir Sulawesi Selatan dalam Public Sharing “Kajian Banjir Bandang Kota Masamba Luwu Utara”.

            Melihat kondisi bencana yang kian memprihatinkan, ada baiknya hal ini kita jadikan momentum untuk kembali melihat sekitar, kembali merawat alam. Kita memang tidak bisa menolak adanya kejadian alam tersebut, tapi kita bisa melakukan hal-hal kecil untuk setidaknya mengurangi risiko atau dampak dari bencana. Hal yang sangat sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan, merawat ekosistem sungai, atau menjaga tutupan hutan akan sangat bermanfaat untuk bumi kita. Hal ini juga dapat menjadi cerminan bagaimana kita menanggulangi bencana. Tidak lupa pula melihat saudara-saudara kita menjadi korban, agar setidaknya kita memberikan sebagian harta bagi mereka yang membutuhkan atau pun melakukan trauma healing khususnya bagi anak-anak terdampak yang sangat rentan. Semoga semua yang terjadi sepanjang tahun ini dapat menjadi titik balik untuk kehidupan yang lebih baik.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PKMR XLVIII : Momentum Untuk Menghasilkan Peserta Dengan Karakter Rimbawan

Diimingi Kehidupan Yang Layak, Untia (Masih) Dihantui Banyak Masalah

Observasi Talenta 23: Proses Menggali Potensi Generasi Muda UKM BK SI-Unhas