Menilik Budidaya Sutera di Kampung Sabbeta
Kampung Sabbeta, kawasan kecil yang terletak di Desa Pising, Kecamatan Donri-Donri, Kabupaten Soppeng. Kampung unik yang dihuni oleh para pengrajin kain sutera ini didirikan dan diresmikan pada tahun 2018. Tujuan didirikannya Kampung Sabbeta ialah sebagai area distingtif budidaya sutera. Sabbe dalam bahasa bugis yang berarti sutera dan Ta yang berarti kita. Makna dari nama Kampung Sabbeta adalah kampung sutera kita.
Pengelolaan ulat sutera di Kampung Sabbeta digagas dan dikembangkan oleh Pak Nurdin yang sekaligus mengepalai 36 kepala keluarga dalam pembudidayaan ulat sutera dan proses pembuatan kain sutera. “Di sini ada 36 kepala keluarga dan semuanya berperan dalam pengembangan sutera, ada yang turun lapangan dalam artian dari proses bibit, pakan dan sampai jadi benang dan produk-produk lainnya, semua dikerjakan di sini.” Jelas Bu Hasna, Istri dari Pak Nurdin yang juga ikut berperan dalam proses produksi kain sutera.
Motivasi Pak Nurdin dalam mengembangkan dan membudidayakan tenun kain sutera adalah karena kemauannya sendiri. Menurutnya, Kabupaten Soppeng yang seharusnya dikenal sebagai Kota Sutera karena Soppeng adalah salah satu daerah yang memproduksi bahan mentah sutera. Terlebih lagi beliau ingin memperkenalkan ke khalayak umum bahwa Soppeng, lebih tepatnya di Kecamatan Donri-Donri lah yang memproses bahan bakunya.
Awalnya usaha yang dirintis oleh Pak Nurdin ini bisa dibilang tidak berhasil. “Awal merintis ini ada pejabat yang tertarik dan memesan kain dan katanya mau dibeli. Sudah dibuatkan tapi ujung-ujungnya tidak dibeli.” Ucap Bu Hasna. Beliau mengatakan usaha ini mulai maju dan berkembang karena mengikuti sebuah pameran. Di pameran tersebut ternyata pengunjung yang tertarik dengan kain buatan mereka cukup banyak. Semenjak itulah mulai banyak pesanan dan kunjungan dari pembeli bahkan dari manca negara. Pembeli dan pengunjung banyak yang datang dari luar Soppeng, seperti Wajo, Jakarta, Jawa bahkan dari luar Indonesia pun datang ke toko kecil milik mereka. Dari pameran itu juga beliau belajar bahwa lebih banyak yang tertarik dengan produk jadi seperti baju, sepatu dll. Sehingga, sekarang telah berkembang usaha kain sutera tersebut dengan adanya produk jadi seperti baju, sepatu, outer, sarung, baju adat dan bahkan mukena.
Uniknya, di Kampung Sabbeta, mereka menggunakan teknik ecoprint yang mana ramah lingkungan dan motif serta pewarnaannya yang alami. Teknik ecoprint adalah teknik mencetak atau memberikan pola pada kain menggunakan bahan-bahan alami seperti tumbuh-tumbuhan. Motif atau pola yang digunakan menggunakan bagian-bagian dari tumbuhan seperti daun dan batang. Serta pewarna alami yang berasal dari dedaunan. Namun tidak sembarang daun dapat digunakan dalam pewarnaan kain sutera. Hanya daun-daun yang mengandung zat obat-obatan saja, seperti daun kunyit, daun tingi, daun jati dan juga daun secan. Proses ecoprint ini dimulai dari kokon yang sudah dipintal menjadi benang, kemudian benang diproses menjadi kain, setelah itu kain sutera dipotong sesuai dengan pola yang sudah ada. Selanjutnya kain yang telah dibentuk pola dicelupkan ke dalam pewarna alami dan dikeringkan. Setelah kering kain diberikan motif berupa daun atau helaian-helaian tumbuhan lalu dikukus. Sesudah dikukus kain dijemur dan dikeringkan lagi.
Dalam bidang pemasaran dikelola oleh Ibu Musdalifah. “Kami di sini pemasarannya secara offline, ya seperti di toko kecil ini atau mengikuti pameran dan secara online, kami punya facebook dan instagram untuk memasarkan produk kami. Walaupun gambar yang diambil tidak sebagus yang lain, tapi alhamdulillah pemasaran online juga membantu.” Papar Bu Musdalifah. Dewasa ini, masalah yang dihadapi sekarang ialah pandemi COVID-19 yang berdampak pada semua sektor. Para petani ulat sutera terkendala bibit dan mengakibatkan sulitnya perkembangbiakan. Serta para pengepul atau pengumpul benang sutera juga mengalami kesulitan untuk menjual benang-benang tersebut. Sehingga tertumpuk seperti tumpukan jerami di dalam lemari. “Biasanya pemasukan sejuta perhari, dan tiap hari ada pesanan, sebelum pandemi ini. Namun saat mulai pandemi hingga sekarang sulit mendapat pesanan. Ada, tapi hanya satu pesanan setiap minggunya.” Kata Bu Hasna.
Selain itu, permasalahan lain juga datang dari kurangnya minat anak muda di Kampung tersebut untuk melanjutkan budidaya ulat sutera dan produksi kain sutera. “Saya sebenarnya ingin membantu agar anak-anak mau belajar dan melanjutkan apa yang kami jalani saat ini. Karena kebanyakan anak muda di sini punya minat yang berbeda. Sehingga tidak berminat melanjutkan budidaya sutera. Di sini kebanyakan orang tua yang menekuni budidaya sutera dan kain sutera, saya saja yang paling muda, 45 tahun, tidak ada lagi orang yang umurnya di bawah saya yang mau menekuni usaha ini.” Tutur Bu Musdalifah. Beliau siap untuk menyiapkan hal-hal yang dibutuhkan untuk menunjang pembelajaran tentang budidaya sutera dan proses pembuatan kain sutera untuk anak-anak yang ingin belajar. Ia berharap semoga pemerintah dapat memberi bantuan yang dibutuhkan, seperti alat yang dapat menunjang kegiatan dan pembelajaran nantinya.
Pemerintah seharusnya menindaklanjuti asa Bu
Musdalifah dan para pengelola Kampung Sabbeta. Pasalnya budidaya sutera ini
sangat penting dan ikonik. Citra sutera di Kabupaten Soppeng khususnya di
Kecamatan Donri-Donri haruslah dijaga dan diwariskan kepada anak-anak muda yang
berpotensi. Potensi dan minat bakat mereka dapat dikembangkan dengan cara
mendidik dan menumbuhkan rasa cinta mereka terhadap budidaya sutera. Anak-anak
di Desa tersebut dapat dikenalkan dengan budaya budidaya sutera sejak dini.
Hal-hal yang berkaitan langsung dengan sutera dan pengelolaannya seperti bibit,
lahan, pakan, alat tenun dan jahit untuk membuat kain sutera baiknya dibantu
atau diberikan subsidi oleh pemerintah untuk melancarkan juga membantu
mengembangkan minat bakat serta rasa cinta anak muda untuk mewarisi budaya sutera
di kampung mereka.

Komentar
Posting Komentar