Ancaman Sampah Terhadap Ekosistem Mangrove Desa Cikoang
Desa Cikoang adalah salah satu desa yang
terletak di pesisir Selatan Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar,
Provinsi Sulawesi Selatan. Desa Cikoang merupakan daerah dataran rendah dengan ketinggian 50 meter
diatas permukaan laut, dengan luas wilayah 555,49 Ha. Kawasan pesisir Desa
Cikoang memiliki potensi sumberdaya hayati dan non-hayati dengan Kawasan hutan mangrove. Sebagian lahan dari
Desa Cikoang digunakan untuk lahan mata pencaharian bagi masyarakat. Sawah
merupakan lahan yang paling banyak digunakan yaitu seluas 168.10 Ha atau 30.31%
dan penggunaan lahan terkecil seluas 76.15 Ha atau 13.71% . Selain itu, lahan
di Desa Cikoang juga banyak dimanfaatkan sebagai tambak atau empang oleh
masyarakat sekitar.
Desa Cikoang merupakan desa yang masih
kental akan budayanya, salah satu yang cukup terkenal yaitu budaya “Maudu
Lompoa” yang merupakan perayaan maulid Nabi Muhammad secara besar-besaran.
Selain dari sektor budaya, Desa Cikoang juga menarik untuk diulik dari sektor
lingkungannya, mengingat Desa Cikoang berada di pesisir pantai dengan
muara pertemuan air sungai menuju laut
lepas serta terdapat hutan mangrove di sekitar perairan sungai desa tersebut. Tidak
dapat dipungkiri keadaan tersebut dapat menghadirkan dampak positif dan dampak negative
terhadap masyarakat di Desa Cikoang
Hutan
Mangrove di Desa Cikoang diklaim telah ada sejak dulu dan bertahan hingga saat
ini. Mangrove sendiri merupakan
karakteristik dari bentuk tanaman pantai, estuary atau muara sungai yang
tumbuh di tempat terlindung daerah tropis dan sub tropis. Mangrove merupakan
tanaman yang dapat hidup diantara daratan dan lautan, bahkan dapat berkembang
sebagai hutan mangrove yang ekspensif dan produktif. Mangrove mempunyai kecenderungan
untuk membentuk kerapatan dan keragaman struktur tegakan yang berperan penting
sebagai penangkap endapan dan perlindungan terhadap erosi pantai.
Di
Desa Cikoang terdapat tiga jenis mangrove yaitu bakau (Rizhopora), Avicennnia Marina,dan Sonneratiaceae. Berberapa
lahan hutan mangrove yang ada di Desa
Cikoang mimiliki status kepemilikan oleh masyarakat setempat. “Tidak semua
lahan tambak ataupun empang yang ada di Desa Cikoang memiliki sertifikat
kepemilikan dan setiap tahun pemilik lahan telah taat membayar pajak” tutur
Deng Rurung salah satu nelayan yang pernah merangkap menjadi penjaga tambak.
Dengan adanya klaim kepemilikan lahan tersebut secara otomatis pengelolaan
hutan mangrove dilakukan oleh masyarakat yang memiliki lahan tersebut. Biasanya
untuk membuat tambak atau empang, wilayah perairan sekitarnya harus bersih dari
berbagai tumbuhan termasuk mangrove itu sendiri. Mangrove yang sudah tua akan
ditebang oleh pemiliknya untuk dijadikan sebagai bahan bangunan atau kayu
bakar.
Tanaman mangrove yang ada di Desa Cikoang
difungsikan sebagai pelindung atap rumah, ketika angin barat terjadi sebagai
pembatas tambak, bahan bangunan dan penahan abrasi. Masyarakat
sekitar pesisir mengelola hutan mangrove dengan menanamnya sendiri, baik
disekitar belakang rumah maupun disekitar tambaknya. Beberapa mangrove yang tumbuh di Desa Cikoang
merupakan hasil penanaman yang dilakukan oleh mahasiswa Unhas beberapa tahun
lalu. Keberadaan wilayah hutan mangrove saat ini mengalami penurunan daerah
luasan yang diakibatkan oleh adanya intervensi dan kebiasaan manusia terhadap
ekosistem mangrove seperti dengan adanya alih fungsi lahan.
Alih fungsi lahan mangrove yang terjadi di
Desa Cikoang dapat dilihat dari adanya lahan mangrove yang pada akhirnya
ditebang untuk digunakan sebagai wilayah tambak ikan, udang, kepiting dan
lain-lain. Hal ini didukung dengan pernyataan masyarakat sekitar. “Tanaman
mangrove di Desa Cikoang dulunya lebih banyak dari sekarang, namun seiring
dengan berjalannya waktu banyak warga yang menjadikan lahan mangrove sebagai
lahan tambak untuk memenuhi kebutuhan ekonomi hidup mereka yang menyebabkan
tidak sedikit tanaman mangrove yang ditebang karena hal tersebut” ucap Bapak
Sangkala salah satu masyarakat yang merasakan dampak alih fungsi lahan mangrove
tersebut.
Bukan hanya hal tersebut fungsi tanaman
mangrove untuk meminimalisir abrasi, dan sebagai habitat flora dan fauna menjadi kurang
terealisasikan dengan baik. Hal ini terbukti dengan pernyataan masyarakat
setempat yang menyatakan bahwa dengan berkurangnya mangrove di desa tersebut
menyebabkan air pasang semakin mudah masuk ke dalam pemukiman warga dan
mangrove yang biasanya dijadikan sebagai habitat ikan yang ada di sungai sudah
tidak ada lagi. Bahkan beberapa lahan
mangrove ada yang dialih fungsikan menjadi pemukiman masyarakat dan biasanya
air muncul dari bawah tanah pada rumah yang dibangun pada area tersebut. Oleh
karena itu, masyarakat dituntut untuk siap menghadapi segala konsekuensi
sebagai hasil dari sikap yang telah diterapkan. Penurunan daerah luasan
mangrove juga disebabkan oleh pengalifungsihan lahan mangrove menjadi daerah
pemukiman warga, sehingga menurut pernyataan masyarakat setempat tak jarang air
muncul dari lantai rumah yang dibangun dari bekas lahan hutan mangrove
tersebut.
Selain alih fungsi lahan, berkurangnya
mangrove juga disebabkan oleh sampah yang menghambat pertumbuhan tanaman
mangrove karena sampah yang menumpuk pada bagian akar tanaman mangrove. Jenis
sampah yang paling banyak berserakan yaitu jenis sampah plastik yang berasal
dari aktivitas rumah tangga masyarakat setempat.
Hal ini lama-kelamaan akan menurunkan luasan permukaan pengambilan unsur hara
oleh tanaman dan pada akhirnya menurunkan pertumbuhan tanaman (Mandura, 1997).
“Sampah
dapat berimplikasi terhadap ekosistem di pesisir, salah satunya adalah menutup
tunas-tunas mangrove saat air surut, sehingga apabila terus berlanjut dapat
menghambat pertumbuhan mangrove” dijelaskan dalam jurnal Dewi Dwiyanti Suryono
yang berujudul “Sampah Plastik di Perairan Pesisir laut : Implikasi kepada
ekosistem pesisir DKI Jakarta”. Penyebab
banyaknya sampah yang berserakkan di sekitar lingkungan Desa Cikoang disebabkan
karena belum adanya tempat sampah umum yang disediakan, sehingga masyarakat
membuang sampah secara sembarangan termasuk di daerah perairan.


Gambar: Kondisi sampah di lahan
mangrove Desa Cikoang
Sampah yang berserakan juga berdampak terhadap hasil
panen masyarakat yang bekerja sebagai nelayan dan petani rumput laut, dimana
saat mereka mengangkat jala ikan dan jala rumput laut akan terdapat banyak
sampah yang tersangkut dalam jala tersebut. Apabila terdapat air pasang
atau hujan secara terus menerus akan
terjadi banjir yang menyebabkan air berpindah dari satu empang ke empang yang lain dan pada saat itu sampah
pun juga ikut berserakan dan berpindah tempat.
Pemerintah
Kabupaten Takalar telah memberikan bibit mangrove jenis bakau kepada
masyarakat, namun bibit tersebut tidak tumbuh. Hal ini disebabkan karena
tersapu oleh air pasang yang cukup tinggi dan deras serta tanah yang ditempati
untuk menanam bisa dikatakan tidak cocok sebagai tempat penanaman mangrove
tersebut. Tanah yang cocok untuk digunakan sebagai tempat penanaman mangrove
harus memiliki tanah yang berlumpur. Dalam situs Mongabay dengan artikel yang
berjudul “Hutan Mangrove” menyatakan bahwa tanah berlumpur sangat baik sebagai
media tumbuh sebagian besar jenis spesies mangrove di Indonesia. Rhizopora
dan Avicennia Marina merupakan dua contoh spesies yang berkembang
dengan baik pada tipe tanah berlumpur.
Pemerintah saat ini hanya bisa memberikan
himbauan bagi masyarakat agar mereka mengelola hutan mangrove dengan baik dan
tanpa merusak ekosistem mangrove. Tetapi belum ada upaya lain seperti tindakan
yang dilakukan pemerintah untuk mengurangi terjadinya penurunan luasan hutan
mangrove di Desa Cikoang. Sebagai usaha mengontrol dan menambah luasan hutan
mangrove dapat dilakukan kerjasama dengan pihak pemerintah desa dan masyarakat
setempat untuk melakukan penanaman tanaman mangrove di beberapa titik yang
dianggap memungkinkan tanaman mangrove tersebut dapat tumbuh dengan baik tanpa
tersapu air pasang serta diusahakan adanya komunikasi yang baik dengan
pemerintah mengenai banyak titik sampah yang perlu perhatian lebih akan
pengadaan tempat sampah umum di Desa Cikoang. Diperlukan penyuluhan terhadap masyarakat
akan pentingnya menjaga lingkungan dalam berbagai aspek termasuk mengenai
pengaruh eksistensi tumbuhnya tanaman mangrove dan pengaruh kebersihan terhadap
lingkungan sekitar.
Komentar
Posting Komentar