Ekosistem Mangrove Di Desa Cikoang Dan Pengaruh Sampah Bagi Aktivitas Masyarakat
Negara
Kepulauan Indonesia memiliki garis pantai yang sangat panjang. Kondisi ini memungkinkan Indonesia
memiliki kawasan hutan mangrove
yang luas. Menurut Tjandra dan Ronaldo (2011), komunitas mangrove Indonesia tercatat sebagai daerah yang terluas
di dunia, selain itu Indonesia juga memiliki
keanekaragaman mangrove tertinggi di dunia. Hutan mangrove sering juga disebut hutan bakau atau
hutan payau dan hutan pasang surut. Menurut Nybakken (1998) yang dimaksud hutan
mangrove adalah vegetasi hutan yang tumbuh di antara garis pasang surut tetapi
dapat tumbuh pada pantai karang yaitu pada karang koral mati yang diantaranya
tertimbun lapisan tipis pasir, ditimbuni lumpur atau pantai berlumpur. Menurut Kusmana
(2002), Hutan mangrove juga merupakan kelompok jenis tumbuhan yang tumbuh
sepanjang garis pantai tropis sampai sub-tropis yang memiliki fungsi istimewa
dilingkungan yang mengandung garam dan bentuk lahan berupa pantai dengan reaksi
tanah an-aerob.
Ekosistem hutan mangrove merupakan salah satu ekosistem yang memiliki produktivitas yang tinggi
dibandingkan ekosistem lain dengan komposisi bahan organik menjadikannya
sebagai mata rantai ekologis yang sangat penting bagi kehidupan makhuk hidup
yang berada disekitar perairan. Keberadaan hutan mangrove di ekosistem sangat
penting karena memiliki potensi ekologis dan ekonomi sebagai habitat dari
berbagai macam ikan, udang, kepiting dan makhluk hidup lainnya. Ekosistem hutan
mangrove layak dipertahankan sebagai bagian dari kawasan hutan lindung, karena
selain mendominasi ekosistem secara keseluruhan juga memiliki kemanfaatan dari
segi pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya.
Hutan mangrove memiliki banyak manfaat untuk daerah pesisir seperti menahan arus air laut yang dapat mengikis pantai, mencegah abrasi, menahan angin dan lain-lain. Sama halnya yang dirasakan oleh masyarakat di Desa Cikoang dengan adanya hutan mangrove di sana. Hutan mangrove yang ada di Desa Cikoang sudah ada sejak dulu, menurut masyarakat sekitar mangrove tersebut ditanam oleh para leluhur yang mereka fungsikan sebagai pelindung angin agar atap rumahnya tidak rusak saat angin barat datang dan mencegah terjadinya pengikisan tanah (abrasi). Namun, saat ini ekosistem mangrove terancam rusak, kegiatan masyarakat yang menjadikan wilayah mangrove sebagai tempat pemukiman dan area tambak untuk menunjang kebutuhan hidup. Hal ini yang membuat ekosistem mangrove terancam rusak melihat jumlah penduduk yang terus meningkat.
Selain alih fungsi lahan yang dapat mengancam rusaknya
ekosistem mangrove yaitu kondisi tanah yang kurang cocok untuk ditumbuhi
tanaman mangrove. Kondisi ini pernah dialami oleh salah satu lembaga yang turun
ke Desa Cikoang untuk melakukan penanaman mangrove sekitar 20 tahun yang lalu.
Kegiatan ini dilakukan oleh Yayasan ASA Nusantara sebagai upaya untuk
membudidayakan tanaman mangrove. Sebelum melakukan penanaman pihak Yayasan ASA
Nusantara juga melakukan sosialisasi mengenai mangrove kepada masyarakat
sekitar. Namun, kegiatan yang dilakukan tidak berjalan sesuai dengan harapan, karena
kondisi tanah yang digunakan untuk menanam berpasir menyebabkan bibit tidak
tertanam dengan baik. “Iya, Yayasan ASA Nusantara pernah lakukan penanaman
mangrove, tapi tidak tumbuh karena tanahnya berpasir, jadi hanyut dihantam
ombak” ujar Pak Amin salah satu warga.
Tetapi tidak semua tekstur tanah yang ada di Desa Cikoang berpasir, beberapa
lokasi dengan kondisi tanah berlumpur berpasir menjadi tempat tumbuh suburnya
tanaman mangrove. Dilihat dari banyaknya tanaman mangrove di sekitar tambak dan
rumah warga dan terdapat beberapa jenis mangrove yang dapat tumbuh di Desa
Cikoang yaitu bakau (Rizhopora), api-api
(Avicenn ia Marina), dan parappa (Sonneratiaceae). “Hanya
jenis bakau, api-api, dan parappa yang bisa tumbuh di daerah sini” ujar Pak
Iskandar selaku kepala Dusun Jonggoa.
Masyarakat sekitar
biasanya memanfaatkan pohon mangrove yang sudah tua dengan menebangnya dan
menjadikannya sebagai bahan bangunan ataupun kayu bakar, namun pemanfaatan
mangrove menjadi kayu bakar sudah tidak dilakukan karena masyarakat sadar hal
ini dapat merusak ekosistem mangrove. Selain memanfaatkan, masyarakat juga
tetap membudidayakan tanaman mangrove dengan metode propagul. Metode yang
dimaksud yaitu mangrove tumbuh dengan sendirinya tanpa campur tangan manusia,
adapun bibitnya berasal dari buahnya yang sudah tua kemudian jatuh dan tumbuh
kembali.
Wilayah mangrove
yang ada di Desa Cikoang sebagian besar memiliki status kepemilikan. Hal ini
disebabkan pemilik lahan melakukan penanaman sendiri disekitar tambaknya dengan
tujuan agar tambaknya tidak rusak dihantam air saat pasang. Selain itu, keberadaan
mangrove disekitar tambak juga membawa dampak baik bagi habitat ikan yang dipelihara.
Tidah hanya tambak ikan, di Desa Cikoang juga terdapat beberapa tambak garam dan
rumput laut.“Harga garam perkarungnya itu Rp200.000, sedangkan rumput laut jenis
sango-sango harga perkilonya hanya sekitar Rp6.000” ujar Ibu Salasia seorang
petani rumput laut sekaligus petani garam. Dari penuturan Ibu Salasia
pendapatan dari tambak garam memiliki nilai jual yang lebih tinggi daripada
rumput laut jenis sango-sango. Tapi beberapa masyarakat juga membudidayakan
rumput laut jenis agar-agar yang memiliki nilai jual tinggi. Namun rumput laut
ini cukup sulit untuk dibudidayakan karena hanya dapat tumbuh dengan baik di
tengah laut dengan salidaritas air yang tinggi dan terkena ombak. Sedangkan
rumput laut jenis sango-sango lebih mudah dibudidayakan di empang atau tambak
yang aksesnya lebih mudah dari tempat tinggal petani.
Selain
memanfaatkan tambak, masyarakat juga tetap mencari ikan di laut. Masyarakat
menangkap ikan disekitar muara dengan menggunakan beberapa metode seperti Lanra
dengan menggunakan jaring atau jala yang dilempar ke sungai, Bandon menggunakan
jala yang diangkat dan Bagang yang menggunakan jaringan dan lampu sehingga alat ini bisa digunakan untuk light fishing (pemancingan cahaya). Adapun jenis
ikan yang biasa didapatkan yaitu ikan Baronang, Katombo (ikan kembung), Lele, dan
masih banyak lagi. Ikan yang biasanya didapatkan dijual ke pasar dengan harga
yang beragam dan jika ada yang lebih dikonsumsi pribadi. Selain menangkap ikan masyarakat
juga mempunyai pekerjaan sampingan sebagai penunjang kebutuhan hidup mereka,
seperti pedagang.
Namun hasil
tangkapan mereka biasanya tidak sesuai dengan yang diharapkan melihat kondisi
sampah yang berserahkan disekitar pesisir. Ada beberapa permasalahan yang
ditimbulkan oleh sampah yang berserakan, tidak hanya menghambat pertumbuhan
bibit mangrove, tetapi juga berpengaruh terhadap ekosistem laut
Menurut narasumber
yang kami wawancarai, kondisi sampah yang berserakan disekitar pesisir
berpengaruh terhadap hasil tangkapan mereka, dikarenakan pada saat memasang
jaring banyak sampah yang tersangkut. Namun sebagian nelayan yang memanfaatkan
sampah sebagai umpan ikan. Dia mengatakan bahwa jika ada sampah yang terlihat
pasti ada ikan di bawahnya tapi jenis sampah yang dimaksud yaitu sampah organik.
Adapun salah satu petani rumput laut yang kami wawancarai, mengatakan hal yang
sama karena beliau memiliki tambak yang berdekatan dengan rumah warga jadi
disaat curah hujan naik dan mengakibatkan banjir, sampah yang berserakan masuk
kedalam tambak beliau, yang membuat rumput lautnya tersangkut banyak sampah.
Sampah yang ada di tambak petani rumput laut tidak hanya sampah plastik, namun terdapat pecahan beling yang jika pada
saat mengangkat rumput laut, tangannya terluka dikarenakan terkena pecahan
beling.
Sampah yang
berserakan ini menjadi masalah yang berlarut-larut di masyarakat sekitar
pesisir karena masyarakat tidak tahu harus membuang kemana sampah mereka. Jadi
sebagian besar masyarakat membuang sampahnya kebelakang rumah yang sangat dekat
dengan pesisir, sehingga pada saat air pasang sampah akan masuk kedalam
pemukiman. Tidak hanya membuangnya ke belakang rumah masyarakat juga membuang
sampahnya ke lokasi tambak yang sudah tidak digunakan kemudian dijadikan
sebagai rumah. Kondisi ini kemudian menimbulkan bau yang tak sedap yang
menambah kerasahan warga. Tapi sedikit masyarakat yang peduli terhadap
lingkungan, menumpuk sampahnya dan membakarnya sendiri.
Dari kebiasaan
masyarakat sendiri yang menyebabkan timbulnya dampak negatif dilingkungan
masyarakat, salah satunya banyak nyamuk yang menyebabkan penyakit Demam Berdarah
yang banyak menyerang anak-anak. Dampak lain yang dirasakan masyarakat dari
sampah yang dijadikan timbunan yaitu air naik dari bawah lantai rumahnya.
Perilaku
masyarakat yang membuang sampah sembarangan dapat dikatakan kurangnya kesadaran
masyarakat terhadap kepedulian terhadap lingkungan. Namun tidak terlepas dari
pemerintah desa dalam menanggulangi permasalahan sampah di lingkungan masyarakat.
Dilihat di Desa Cikoang tidak ada pembuangan sampah akhir, tetapi pemerintah
setempat sampai saat ini masih berusaha dengan melakukan pengadaan tempat
sampah disetiap rumah warga. Sebelum itu, pemerintah sempat mengadakan kerja
sama dengan Pemerintah Daerah Takalar untuk mengadakan truk pengangkut sampah
ke setiap rumah warga. Namun, rencana ini terkendala dengan alasan tidak adanya
orang yang bisa mengoperasikan truk tersebut dan tidak adanya lokasi yang tersedia
untuk menumpuk sampah sebelum dibawa ke pembuangan akhir. Pemerintah berencana akan memasukkan kembali
kedalam program kerja mengenai pengadaan tempat sampah yang bisa dibakar
langsung kesetiap rumah warga, dimana program kerja ini sempat dihentikan
karena adanya harapan dari kerja sama dengan Pemerintah Daerah Takalar.
Masyarakat dan
pemerintah desa belum merasakan dampak besar yang akan ditimbulkan oleh sampah
jika terus menerus membuang sampah kesekitar pesisir. Beberapa tahun kedepan
jika permasalahan sampah ini tidak ditindak lanjuti akan mempengaruhi ekosistem
bawah air dan ekosistem mangrove. Permasalahan sampah yang berserahkan tidak
akan selesai apabila pemerintah dan masyarakat sekitar tidak bekerja sama untuk
menanggulangi permasalahan ini.
Selain kurangnya
kepedulian terhadap kebersihan, masyarakat juga kurang peduli dengan ekosistem
hutan mangrove, dilihat dari adanya aktivitas masyarakat yang menebang pohon
mangrove untuk dijadikan lahan tambak dan pemukiman. Jika kondisi ini terus
terjadi maka lahan mangrove akan semakin berkurang. Banyak dampak yang bisa
terjadi apabila masalah ini tidak ditanggulangi. Salah satunya, wilayah pesisir
lebih rentan terkena abrasi. Namun, permasalah ini bisa dengan mudah diatasi
apabila masyarakat dan pemerintah meningkatkan pemahamannya mengenai pentingnya
keberadaan ekosistem mangrove. Serta memahami mengenai cara pembudidayaan dan
pengelolaan mangrove yang dapat bernilai ekonomi.
Kesimpulannya
masyarakat di Desa Cikoang belum begitu paham mengenai cara memproduksi dan membudidayakan tanaman
mangrove agar bernilai jual beli juga
masih
kurangnya kesadaran terhadap
kepedulian
lingkungan sekitar. Serta pemerintah
yang hanya menghimbau kepada masyarakat untuk tidak
membuang sampah sembarangan, tanpa tindakan
untuk memfasilitasi tempat sampah atau menyediakan lokasi
tempat pembuangan akhir. Maka solusi yang dapat dihadirkan yaitu dengan melakukan sosialisasi dan meningkatkan
kesadaran kepada masyarakat sekitar pesisir terkait bahaya dan dampak yang bisa
ditimbulkan dari sampah yang berserahkan baik dampak yang dirasakan sekarang
maupun kedepannya serta melakukan konsultasi dengan pemerintah setempat terkait
pengadaan tempat sampah agar segera dilaksanakan sebagai langkah awal
menanggulangi sampah yang berserakan.

Komentar
Posting Komentar