Mengenal dan Melestarikan Primata Indonesia
Hari Primata Indonesia diperingati setiap 30 januari merupakan hari yang menjadi momen penting untuk menyebarkan informasi kepada masyarakat mengenai pentingnya untuk melindungi primata. Hari primata indonesia dicetuskan pada 2014 oleh yayasan sosial yang bergerak di bidang konservasi hutan dan perlindungan satwa liar, ProFauna Indonesia.Peringatan Hari Primata Indonesia dilatarbelakangi oleh keprihatinan atas maraknya terjadi perdagangan illegal primata. Namun jika dilihat secara holistik, dinamika keterancaman spesies primata tidak hanya disebabkan oleh tingginya intensitas perburuan, massifnya pengrusakan habitat primata yang didorong oleh semangat peningkatan perekonomian juga turut mendukung hadirnya kondisi keterancaman dari spesies primata tersebut.
Primata merupakan satwaliar yang sangat esensial bagi kehidupan manusia dan ekosistem di dalamnya. Primata memberikan pengetahuan lebih untuk para peneliti terkait dengan evolusi manusia, biologi, maupun epidomologi penyakit. Berbagai jenis primata mayoritas tersebar di daerah tropis termasuk indonesia. Indonesia memiliki kekayaan primata tertinggi di Asia. Namun terdapat ancaman terhadap kepunahan primata yang sedang dihadapi oleh habitat primata khususnya dari perubahan iklim serta kegiatan antropogenik yang menyebabkan kehilangan habitat primata. Hal ini menjadikan perencanaan konservasi primata sangatlah penting bagi indonesia. Tiga famili primata yang memiliki keterancaman tinggi yaitu Cercopithecidae, Hominidae, dan Hylobatidae. Kawasan konservasi yang memiliki kehilangan relatif tinggi memiliki prioritas restorasi habitat.
Status Keterancaman Primata Indonesia
Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki jenis primata paling bervariasi di dunia? Dari 200 jenis primata yang tercatat di muka Bumi, di Indonesia terdapat 40 jenis atau sekitar 25 persen. Ironinya, dari jumlah tersebut, sekitar 70 persen terancam punah akibat banyak habitat primata yang rusak dan penangkapan ilegal untuk diperdagangkan. ProFauna Indonesia mencatat setiap tahunnya ribuan kera hasil tangkapan alam diperdagangkan di Indonesia untuk dikonsumsi atau dijadikan satwa peliharaan.
Tingginya angka konsumsi primata di Indonesia terjadi karena sebagian masyarakat masih percaya mitos bahwa kera dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, salah satunya asma, meski sampai saat ini tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Akibat eksploitasi yang membabi buta ini, sedikitnya 4 primata asal Indonesia benar-benar akan punah jika tidak segera diselamatkan. Mereka adalah orangutan sumatera (Pongo abelii), kukang jawa (Nyeticebus javanicus), tarsius siau (Tarsius tumpara), dan simakubo (Simias cocolor).
Selain itu, Pertambahan populasi penduduk juga yang terus terjadi pada setiap tahun, merupakan salah satu tekanan terhadap habitat satwa primata. Peningkatan jumlah penduduk harus pula diikuti dengan kebutuhan lahan untuk perumahan dan pengembangan sektor ekonomi yang mendukung kehidupan manusia di sekitarnya. Jumlah penduduk Indonesia saat ini tercatat 261,1 juta jiwa, dan penduduk yang menetap di sekitar kawasan hutan berjumlah 8.643.228 jiwa, dengan demikian kebutuhan lahan juga meningkat. Selain penyempitan habitat, perburuan liar oleh pihak – pihak yang tidak bertanggung jawab memperpanjang kasus kelangkaan berbagai satwa primata di Indonesia. Perburuan liar merupakan kasus yang belum dapat dihentikan sampai saat ini, karena beberapa spesies satwa primata dijadikan sumber protein hewani sebagian besar penduduk, terutama di kepulauan Sulawesi . Disisi lain hewan ini kerap menjadi hama bagi petani, karena memakan tanaman pertanian, sehingga banyak diantara mereka yang dibunuh dengan berbagai cara baik secara tradisional maupun menggunakan peralatan modern.
Sehubungan dengan permasalahan tersebut pemerintah telah berupaya untuk menyelamatkan satwa primata, bahkan beberapa diantara spesies satwa primata tersebut telah ditetapkan sebagai satwa prioritas. Perlindungan terhadap habitat juga telah dilakukan pemerintah dengan menetapkan jutaan hektar lahan untuk kawasan konservasi, namun upaya ini belum memberikan hasil yang optimal. Hal ini karena sebagian besar satwa primata hidupnya berada di luar kawasan konservasi.Menyelamatkan mereka tak cukup dengan mengandalkan kepedulian para LSM pecinta satwa saja, tetapi kesadaran dari seluruh masyarakat dan pemerintah untuk saling mengingatkan pentingnya menjaga habitat bangsa kera dan monyet yang merupakan bagian dari kekayaan alam Indonesia ini.
Populasi dan Sebaran Habitat Primata Indonesia
Primata Indonesia tersebar di 4 pulau besar, meliputi Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Sulawesi, dengan jumlah spesies masing-masing Sumatera 24 spesies, termasuk satwa primate Kepulaun Mentawai (4 spesies satwa primate yang endemik). Kalimantan 14 spesies, Sulawesi 16 Spesies, sedangkan Jawa dan Bali hanya 5 spesies.
Pulau yang memiliki satwa primata yang cukup tinggi adalah Sumatera. Hal ini tidak lepas dari pengaruh zoogeografi satwa itu sendiri. Potensi satwa primate yang hidup dan diklasifikasikan berdasarkan pulau tempat ditemukannya. Spesies satwa primata yang tersebar di Indonesia memiliki keunikannya masing-masing. Sumatera, Jawa, dan Kalimantan memiliki keragaman jenis primata yang tinggi, namun memiliki banyak kesamaan jenis diantara ketiga pulau besar tersebut. Berbeda halnya dengan Sulawesi, satwa primata di Sulawesi lebih mirip dengan satwa primata Filipina. Hal ini sesuai dengan klasifikasi satwa primate Asia bahwa jenis satwa primate yang ada di Sumatera memiliki kesamaan dengan satwa primata yang ada di Malaysia dan Thailand, sementara spesies yang ada di Sulawesi hanya Tarsier yang memiliki kesamaan dengan satwa primata Filipina. Kesamaan spesies satwa primata ini dinyatakan berdasarkan temuan bukti adanya kesamaan genetic antara Presbytis yang ada di Jawa, Kalimantan, Sumatera, Malaysia, Thailand dan Filipina.
Meskipun secara genetik ada kesamaan antara Presbytis Sumatera, Kalimantan, dan Jawa, tetapi mereka tetaplah spesies yang memiliki keunikan dan kekhasannya masing-masing, demikian pula dengan spesies satwa primata yang ada di Sulawesi memiliki keunikannya sendiri. Hal ini mengacu pada penjelasan Wallace tentang sejarah sebaran fauna di dunia bahwa satwa itu berasal dari satu tempat, kemudian menyebar ke berbagai daerah. Keunikan ini menurut Alejandro dipengaruhi oleh habitat yang terisolasi Batasan ekologi maupun geografi. Secara biota hidup dan berkembang Bersama-sama dengan Batasan yang ada. Untuk melewati Batasan tersebut hewan memiliki pola sebaran tersendiri dan merupakan salah satu strategi bertahan hidup dan berkembang di masa yang akan datang.
Status konservasi Primata Indonesia
Indonesia memiliki satwa primate sampai 59 spesies, namun keberadaan mereka cukup mengkhawatirkan. Hal ini dibuktikan dengan sejumlah besar spesies primate Indonesia IUCN (International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources) ditetapkan status konservasinya diantara kritis, terancam dan rentan. Sementara CITES (Convention on International Trade in Endangered Spesies of Wild Fauna and Flora) menetapkan status primate Indonesia Apendix I dan Apendix II.
Status konservasi merupakan permasalahan besar bagi satwa primata Indonesia, karena belum dapat memanfaatkan satwa primata sebagai sumber daya alam untuk kepentingan pembangunan nasional. Keberadaan satwa primata sebagai salah satu sumber daya alam diharapkan dapat mendukung pembangunan nasional untuk kesejahteraan masyarakat. Pembangunan nasional mengikuti kebijakan Milenium Development Goal (MDG) untuk kecukupan pangan (food), kesehatan (health) dan energi. Sejauh ini Indonesia belum dapat memanfaatkan semua jenis satwa primata untuk penelitian biomedis dalam menunjang pangan dan kesehatan bagi masyarakat. Hanya Macaca fascicularis yang sudah dimanfaatkan sebagai hewan model untuk penelitian biomedis. Spesies satwa primata yang lainnya baru dapat dimanfaatkan sebagai objek wisata.
Status konservasi tersebut menjelaskan bahwa Indonesia tidak boleh berbangga atas spesies yang ada saat ini, tetapi harus bekerja keras untuk mempertahankan agar satwa primata ini dapat lestari di habitat alaminya. Sehubungan dengan status konservasi primate tersebut, Indonesia sudah membuat berbagai langkah dan tindakan, dalam hal ini pemerintah sudah melakukan perlindungan terhadap spesies satwa yang terancam punah dengan cara membuat ketentuan sebagai berikut ini.
- 1. Menetapkan kawasan konservasi seperti Taman Nasional, Cagar Alam, Suaka Marga Satwa, Taman Wisata Alam, Taman Hutan Raya, dan Taman Buru. Kawasan konservasi ini diharapkan dapat menyediakan ruang yang tepat bagi satwa dalam mendapatkan semua kebutuhan hidupnya. Namun sejauh ini keberadaan kawasan konservasi belum membuat satwa terbebas dari perburuan liar, dan pembunuhan. Hal ini kemungkinan besar berkaitan dengan perilaku hewan itu sendiri yang selalu bergerak untuk mencari makan, dan bahkan banyak diantara satwa ini berada di luar kawasan konservasi sebagai habitat yang telah ditetapkan pemerintah;
- 2. Melindungi spesies satwa dengan menetapkan Undang – Undang No 5 tahun 1990 tentang konservasi. Dari catatan yang ada satwa primata yang sudah ditetapkan sebagai hewan yang dilindungi adalah jenis orangutan, berbagai jenis lutung, tarsius, serta loris;
- 3. Menetapkan spesies satwa prioritas untuk perlindungan; dan
- 4. Melakukan penangkaran terhadap spesies– spesies satwa yang terancam, baik itu di habitat alami maupun di kawasan ekssitu. Spesies satwa primata yang mendapat perhatian khusus pemerintah untuk dilindungi, agar tidak sampai menuju pada titik kritis adalah orangutan, baik orangutan sumatera maupun orangutan kalimantan dan owa jawa. Di penangkaran eks-situ banyak spesies satwa primata yang dipelihara seperti di Taman Marga Satwa Ragunan Jakarta dan di Taman Safari Indonesia, serta di kebun binatang lainnya.
Upaya Pencegahan Primata dari Kepunahan
Peningkatan pelestarian dan perlindungan primata harus tetap dijaga dan berkelanjutan karena Primata memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan dengan menjadi penebar biji vegetasi hutan, mediator penyerbukan, dan penambah volume humus untuk kesuburan tanah. Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah Primata dari Kepunahan yaitu dengan Melakukan perlindungan habitat yang merupakan cara yang efektif untuk mencegah kepunahan primata. Ini dapat dilakukan dengan cara menciptakan taman nasional atau rezim konservasi lainnya untuk melindungi area-area yang menjadi habitat primata. Menghentikan perburuan liar untuk mencegah kepunahan primata. Ini dapat dilakukan dengan cara mengambil tindakan hukum terhadap pelaku perburuan liar dan mengadakan program pemberdayaan masyarakat untuk mengurangi permintaan terhadap produk-produk yang dihasilkan dari perburuan liar. Menghentikan perdagangan satwa liar untuk mencegah kepunahan primata. Ini dapat dilakukan dengan cara mengambil tindakan hukum terhadap pelaku perdagangan satwa liar dan melakukan kampanye edukasi untuk mengurangi permintaan terhadap produk-produk yang dihasilkan dari perdagangan satwa liar. Melakukan penelitian dan monitoring terhadap primata untuk mengetahui kondisi populasi dan menentukan tindakan yang diperlukan untuk melindungi mereka. Dan Pemberdayaan masyarakat di daerah yang menjadi habitat primata sangat penting, karena masyarakat di daerah tersebut merupakan pemangku kepentingan yang utama dalam konservasi. Mereka dapat dibekali dengan pengetahuan tentang primata dan cara untuk melindungi mereka, serta dapat diberikan peluang ekonomi yang layak melalui program-program konservasi.
Referensi
Alejandro E, Paul AG, Mary SM Pavelka, Leandra L. 2006. Perspektif baru dalam studi primata mesoamerika: Distribusi, Ekologi, Perilaku dan Konservasi
Alikodra HS. 1990. Pengelolaan Satwa Liar Jilid I. Bogor (ID): Departeman Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Pusat Antar Universitas Ilmu Hayati IPB.
Alikodra HS. 2015. Bekantan perjuangan melawan kepunahan. Bogor (ID): IPB Pr.
Asian Colobines (http://www.sciencedirect. com di akses 23 November 2017.
BPS. 2017. Jumlah dan persentase rumah tangga di sekitar kawasan hutan https:// www.bps.go.i id/linkTabelStatis/view/ id/1849. Di akses 3 Oktober 2017 jam 10.08 WIB



.png)

Komentar
Posting Komentar