Sistem Pangan: Yang Terlupakan Namun Butuh Perhatian
Ditengah maraknya permasalahan lingkungan yang kian terjadi,
tentu saja memberikan begitu banyak dampak yang dapat dirasakan oleh setiap
makhluk hidup. Dampak-dampak inilah yang meningkatkan keresahan manusia
terhadap keadaan bumi. Meskipun demikian, nyatanya keadaan yang sekarang masih
dapat diperbaiki dengan berbagai cara. Namun dalam perbaikan ataupun
rehabilitas tentu saja tidak mudah dan memerlukan peran aktif dari kita semua.
Peran aktif dari kita semua nyatanya dapat membantu menekan angka kerusakan lingkungan
yang terus membengkak. Setiap langkah kecil dan sederhana yang kita lakukan
dapat menjadi bentuk partisipasi kita dalam menjaga, meningkatkan serta membawa
anak cucu kita menuju kehidupan yang lebih baik nan layak. salah satu langkah
taktis yang mudah untuk kita lakukan sebagai bentuk partisipasi awal menuju
kehidupan yang lebih baik yaitu dengan menjaga ataupun lebih memperhatikan
makanan kita.
Menurut publikasi dari Crippa et al. (2021), emisi sistem
pangan, mewakili 34% dari total emisi gas rumah kaca, sebagian besar berasal
dari pertanian, aktivitas penggunaan lahan/perubahan penggunaan lahan, dan
aktivitas rantai pasokan seperti ritel, transportasi, konsumsi, dan proses
industri. Perlu diketahui bahwa sistem pangan tidak serta merta cari produksi
pangan dari pertanian, kemudian proses pengolahan bahan pangan tadi menjadi
sebuah makanan. namun didalamnya terdapat pula proses pembuatan pestisida untuk
tanaman pertanian itu, terdapat proses distribusi dari pihak produsen ke pihak
konsumen, dan semua hal itu menghasilkan emisi emisi gas rumah kaca.
Dengan pertanyaan tersebut, kita dapat lebih memperhatikan
pemilihan makanan yang akan dikonsumsi. Jenis makanan yang dapat dikonsumsi
lebih lanjut merupakan jenis yang memiliki resiko rendah terhadap kerusakan
lingkungan salah satunya adalah makanan lokal dan makanan musiman. Berdasarkan
penelitian yang dilakukan oleh Avetisyan et al., (2014) mengungkapkan bahwa pola seperti ini dapat mengurangi jejak karbon yang
ditimbulkan dari proses transportasi. dengan memilih makanan lokal, makanan
yang diperoleh pun lebih segar dan dapat mendukung keberlanjutan pertanian
lokal.
Langkah selanjutnya yang dapat kita lakukan pada pemilihan
bahan pangan kita guna menjaga lingkungan adalah dengan menggunakan kemasan
yang lebih ramah lingkungan. Menurut Kippes et al., (2020), solusi media dan
pengemasan yang ramah lingkungan dapat mengurangi jejak karbon. Dengan adanya
sosial media dan pengemasan yang ramah lingkungan maka biaya bahan serta karbon
hasil pengiriman barang tentu saja akan mengalami penurunan
Hal terakhir yang dapat dilakukan, adalah dengan
menghabiskan makanan kita. Mungkin ini merupakan hal yang sangat sepele, namun
faktanya limbah makanan sangatlah berpengaruh. Dengan kita mengurangi limbah
makanan dalam rantai pasokan dan di rumah dapat membantu mengurangi emisi
karbon dan mencapai sistem pangan berkelanjutan yang hemat sumber daya.
Penelitian yang dilakukan oleh Hall et al., (2009), juga menunjukkan bahwa limbah
makanan berkontribusi terhadap konsumsi air tawar dan bahan bakar fosil yang
berlebihan, yang menyebabkan emisi metana dan CO2 yang berdampak pada perubahan
iklim global.
Perubahan kondisi lingkungan yang dihadapi kedepannya akan
memberikan dampak yang semakin besar, sehingga keseriusan dalam menjaga
lingkungan perlu ditingkatkan. Menjaga lingkungan dapat kita mulai dengan
tindakan sederhana seperti lebih memperhatikan konsumsi makanan yang kita pilih
serta tindakan kita terhadap makanan sisa. Dengan melakukan hal tersebut, kita
telah membantu melangkah menuju perubahan global yang lebih baik lagi
kedepannya.

Komentar
Posting Komentar