Mattabulu : Desa di Atas Awan yang Sarat Dengan Nilai Kehidupan
Potret pemandangan Desa Mattabulu. Foto : UKM BK SI-Unhas
Di ketinggian sekitar 1.000 mdpl, terdapat sebuah desa yang tak hanya memberikan keindahan alam, tetapi juga menyimpan nilai-nilai kehidupan sosial yang menginspirasi. Desa Mattabulu, yang terletak di Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, adalah gambaran nyata bagaimana harmoni antara manusia dan alam bisa berjalan beriringan. Desa ini bahkan masuk kedalam nominasi 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024, sebuah pengakuan atas pesona pegunungan hijau, udara sejuk, dan kabut tipisnya yang menyelimuti pagi dan sore.
Potret kondisi pemanfaatan lahan Desa Mattabulu yang merupakan kawasan Hutan Lindung (HL). Foto : UKM BK SI-Unhas
Di balik keteduhan hutan lindung yang mengelilingi Dusun Teppoe dan Cirowali, terdapat kisah tentang kerja keras, kebersamaan, dan kesetaraan. Warga Desa Mattabulu hidup berdampingan dengan hutan melalui skema Perhutanan Sosial (PS) seluas 1.066 Ha yang memungkinkan mereka mengelola hutan tanpa merusak fungsi ekologisnya.
Salah satu sistem yang diterapkan dalam pengelolaan mereka adalah agroforestri atau dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai “wanatani”, yaitu sistem yang menggabungkan pertanian dan kehutanan. Terdapat berbagai tanaman yang dibudidayakan oleh masyarakat yaitu pinus, kopi, cengkeh, kemiri, dan pohon aren yang tumbuh subur. Komoditas pertanian inilah yang menjadi sumber penghasilan mereka.
Kopi robusta, merupakan salah satu komoditas unggulan dari Desa Mattabulu. Foto : UKM BK SI-Unhas
Menariknya, pengelolaan lahan di Desa Mattabulu menunjukkan kerja sama yang seimbang antara laki-laki dan perempuan. Dalam aktivitas sehari-hari, pembagian peran gender terasa saling melengkapi. Pada proses pembuatan gula aren, laki-laki memanjat pohon aren untuk mengambil air nira dan memasaknya selama kurang lebih 11 jam, sementara perempuan mencetak gula dan mengemas hingga memasarkan.
Seorang masyarakat Desa Mattabulu sedang melakukan penyadapan pohon aren. Foto : UKM BK SI-Unhas
Begitu pula dalam budidaya kopi, laki-laki biasanya bertugas menanam, merawat, dan memetik kopi. Sedangkan, perempuan mengolah biji kopi menjadi bubuk sampai pengemasan hingga pemasaran. Dalam pengelolaan kemiri dan cengkeh, baik laki-laki maupun perempuan bekerja sama pada berbagai tahapan, mulai dari memetik hasil dari pohonnya hingga penjemuran.
Proses mappeppe’ pelleng, merupakan proses untuk memisahkan kemiri dari cangkangnya. Foto : UKM BK SI-Unhas
Menurut salah satu petani, walaupun terlihat bahwa terdapat pembagian peran, semua elemen masyarakat mulai dari bapak-bapak, ibu-ibu, hingga anak muda terlibat dalam semua tahapan kerja, mulai dari pra-panen hingga pasca-panen. "Kalau laki-laki lebih dominan sebelum panen, seperti penanaman dan pemeliharaan. Tapi setelah panen, perempuan lebih banyak ambil peran," ujar pak sabir seorang petani setempat.
Proses mencetak gula aren yang dengan cetakan khusus. Foto : UKM BK SI-Unhas
Gotong royong adalah kunci dari sistem sosial di Desa Mattabulu. Tidak hanya terbatas di lahan pertanian, kesetaraan dan partisipasi juga terlihat dalam pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES). Perempuan turut mengambil peran strategis dalam administrasi, pemasaran produk, hingga pengembangan program usaha desa.
Keberhasilan Desa Mattabulu dalam mengelola sumber daya alam sekaligus menjaga keutuhan sosial menjadi contoh nyata bahwa kesetaraan gender bukan sekadar narasi, tapi tindakan nyata yang membawa manfaat bersama. Dengan pembagian peran yang adil dan fleksibel, serta budaya kerja sama yang kuat, masyarakat desa mampu menciptakan sistem pengelolaan yang berkelanjutan.
Lembah Cinta, merupakan salah satu destinasi wisata Desa Mattabulu. Foto : UKM BK SI-Unhas
Desa Mattabulu tidak hanya menunjukkan bagaimana manusia dapat hidup harmonis dengan alam, tetapi juga bagaimana setiap individu, tanpa memandang gender, punya ruang untuk berkontribusi. Sebuah pelajaran berharga bagi desa-desa lain yang ingin membangun masa depan yang berkelanjutan berangkat dari kekuatan lokal dan nilai-nilai kebersamaan.
- Talenta 23
Komentar
Posting Komentar