Fenomena Hujan di Makassar (2/3): Mengapa Hujan Terus Terjadi?


Hutan Berkabut di Mattabulu, Soppeng. Sumber Foto: UKM BK SI-Unhas

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar mencatat bahwa kondisi cuaca di Makassar pada periode 26 Februari hingga 7 Maret didominasi oleh hujan ringan hingga hujan sedang. Suhu udara berkisar antara 23–29°C dengan tingkat kelembapan relatif tinggi, rata-rata di atas 80 persen. Dalam rentang waktu tersebut, jumlah hari dengan kondisi cerah penuh relatif lebih sedikit dibandingkan hari berawan dan hujan, menunjukkan bahwa aktivitas hujan masih cukup tinggi di wilayah Makassar.

Kondisi ini sejalan dengan fenomena yang dirasakan masyarakat dalam beberapa waktu terakhir, di mana hujan masih sering terjadi dengan pola yang konsisten pada siang hingga malam hari. Tidak jarang pula hujan berlangsung hampir sepanjang hari, meskipun secara klimatologis wilayah ini mulai mendekati periode peralihan musim.

Menurut pemutakhiran prediksi musim hujan 2025/2026 yang dirilis oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika pada November 2025, wilayah Sulawesi termasuk daerah yang mengalami dinamika musim yang cukup signifikan. Fenomena La Niña lemah yang berlangsung sejak September hingga November 2025 diprediksi masih dapat memengaruhi kondisi atmosfer hingga awal 2026. Selain itu, kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) negatif turut meningkatkan potensi curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Sulawesi. BMKG juga mencatat bahwa meskipun awal musim hujan di beberapa wilayah datang lebih lambat, puncak musim hujan di Sulawesi diperkirakan terjadi lebih awal dengan durasi yang cenderung lebih pendek dari kondisi normal.

Secara ilmiah, pola hujan yang dominan terjadi pada siang hingga malam hari di wilayah tropis seperti Makassar berkaitan dengan proses pemanasan permukaan bumi pada pagi hari. Peningkatan suhu menyebabkan penguapan air ke atmosfer yang kemudian membentuk awan konvektif. Awan ini berkembang dan berpotensi menghasilkan hujan pada siang hingga sore hari. Tingginya kelembapan udara dalam beberapa waktu terakhir semakin mendukung terbentuknya awan hujan secara berulang.

Perbandingan antara pola musim normal dan kondisi aktual menunjukkan bahwa dinamika iklim global turut memengaruhi pola cuaca di tingkat lokal. Fenomena seperti La Niña dan perubahan suhu permukaan laut berkontribusi terhadap variasi curah hujan yang berbeda dari pola klimatologis rata-rata. Kondisi ini menunjukkan bahwa hujan yang masih dominan terjadi di Makassar merupakan bagian dari dinamika atmosfer yang dipengaruhi oleh interaksi faktor lokal dan global


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PKMR XLVIII : Momentum Untuk Menghasilkan Peserta Dengan Karakter Rimbawan

Diimingi Kehidupan Yang Layak, Untia (Masih) Dihantui Banyak Masalah

Observasi Talenta 23: Proses Menggali Potensi Generasi Muda UKM BK SI-Unhas